Minoritas Penghuni Surga

Artikel

Merupakan satu anugerah dari Allah,ketika seorang wanita dipertemukan dengan pasangan hidupnya dalam satu jalinan kasih yang suci. Hal ini sebagai satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Sang Khaliq.“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya,Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup dari jenis kalian sendiri,supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya,dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir“.(Ar-Rum:21)

Apatah lagi bila pendamping hidup itu seorang yang shalih,yang akan memuliakan istrinya bila bersemi cinta di hatinya,namun kalau toh cinta itu tak kunjung datang maka ia tak akan menghinakan istrinya.Merajut dan menjalin tali pernikahan agar selalu berjalan baik tidak bisa dikatakan mudah bak membalik kedua telapak tangan,karena dibutuhkan ilmu dan ketakwaan untuk menjalaninya.

Seorang suami butuh bekal ilmu agar ia tahu bagaimana menahkodai rumah tangganya.Istripun demikian,ia harus tahu bagaimana menjadi seorang istri yang baik dan bagaimana kedudukan seorang suami dalam syariat ini.Masing-masing punya hak dan kewajiban yang harus ditunaikan agar jalinan itu tidak goncang ataupun terputus.

Syariat menetapkan seorang suami memiliki hak yang sangat besar terhadap istrinya,sampai-sampai bila diperkenankan oleh Allah,  Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam:pernah bersabda“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain(sesama makhluk)niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Azza wa Jalla terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya terhadapnya.Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya(mengajaknya bersenggama)sementara ia sedang berada di atas pelana(yang dipasang di atas unta)maka ia harus memberikannya(tidak boleh menolak).”(HR.Ahmad.Dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Ash-Shahihul Jami’dan Irwa Al-Ghalil)

Satu dari sekian hak suami terhadap istrinya adalah disyukuri akan kebaikan yang diperbuatnya dan tidak dilupakan keutamaannya. Namun disayangkan,di kalangan para istri banyak yang melupakan atau tidak tahu hak yang satu ini,hingga kita dapatkan mereka sering mengeluhkan suaminya,melupakan kebaikan yang telah diberikan dan tidak ingat akan keutamaannya.
Yang lebih disayangkan,ucapan dan penilaian miring terhadap suami ini kadang menjadi bahan obrolan di antara para wanita dan menjadi bahan keluhan sesama mereka. Padahal perbuatan seperti ini menghadapkan si istri kepada kemurkaan Allah dan adzab yang pedih.

Perbuatan tidak tahu syukur ini merupakan satu sebab wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, sebagaimana diberitakan Nabi shallallahu‘alaihi wasallam seselesainya beliau dari Shalat Kusuf (Shalat Gerhana): Diperlihatkan neraka kepadaku. Ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur.”Ada yang bertanya kepada beliau:“Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”Beliau menjawab:“ Tidak, melainkan mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan suami.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam juga mengisahkan
Aku berdiri di depan pintu surga, ternyata kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin, sementara orang kaya lagi terpandang masih tertahan (untuk dihisab) namun penghuni neraka telah diperintah untuk masuk ke dalam neraka, ternyata mayoritas yang masuk ke dalam neraka adalah kaum wanita.”(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Karena mayoritas kaum wanita adalah ahlun nar (penghuni neraka) maka mereka menjadi jumlah yang minoritas dari ahlul jannah. "Minoritas penghuni surga adalah kaum wanita.”(HR.Muslim)
Bila demikian adanya tidak pantas bagi seorang wanita yang mencari keselamatan dari adzab untuk menyelisihi suaminya dengan mengkufuri kenikmatan dan kebaikan yang telah banyak ia curahkan ataupun banyak mengeluh hanya karena sebab sepele yang tak sebanding dengan apa yang telah ia persembahkan untuk anak dan istrinya.

Sepatutnya bila seorang istri melihat dari suaminya sesuatu yang tidak ia sukai atau tidak pantas dilakukan maka ia jangan mengkufuri dan melupakan seluruh kebaikannya. Sungguh,bila seorang istri tidak mau bersyukur kepada suami, sementara suaminya adalah orang yang paling banyak dan paling sering berbuat kebaikan kepadanya, maka ia pun tidak akan pandai bersyukur kepada Allah ta`ala,Dzat yang terus mencurahkan kenikmatan dan menetapkan sebab-sebab tersampaikannya kenikmatan pada setiap hamba.
Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu menyampaikan sabda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam:
Siapa yang tidak bersyukur(berterima kasih)kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.”(HR.Abu Dawud  dan At-Tirmidzi)

Sepantasnya bagi seorang istri yang mencari keselamatan dari adzab Allah untuk mencurahkan seluruh kemampuannya dalam menunaikan hak-hak suami, karena suaminya adalah jembatan untuk meraih kenikmatan surga atau malah sebaliknya membawa dirinya ke jurang neraka.

Al-Hushain bin Mihshan radliallahu anhu menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu‘alaihi wasallam karena satu keperluan dan setelah selesai dari keperluan tersebut,Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bertanya kepadanya:
Apakah engkau sudah bersuami?”Bibi Al-Hushain menjawab:“Sudah.”“Bagaimana (sikap)engkau terhadap suamimu? ”tanya Rasulullah lagi.Ia menjawab:“Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”Rasulullah bersabda:“Lihatlah di mana keberadaanmu saat bergaul dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.”(HR.Ahmad) 

Saudariku, janganlah engkau sakiti suamimu dengan tidak mensyukuri apa yang telah diberikannya. Ingatlah, suamimu hanya sementara waktu menemanimu di dunia, kemudian dia akan berpisah denganmu dan berkumpul dengan para bidadari surga yang murka kala engkau menyakitinya.

Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia kecuali berkata hurun`in (bidadari-bidadari surga) yang menjadi istri si suami di surga:“Jangan engkau menyakitinya ,karena dia di sisimu hanyalah sebagai tamu dan sekedar singgah, hampir-hampir dia akan berpisah denganmu untuk bertemu dengan kami.”(HR.At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Wallahu  a`lam bishawwab.

Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua.~_~
Disari dari : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein 

Review http://ullynathar.blogspot.com on alexa.com

Ditulis Oleh : zuhri nathar

znatharAnda sedang membaca artikel tentang Minoritas Penghuni Surga.Bila Anda suka, silahkan dishare, namun jangan lupa meletakkan link dibawah sebagai sumbernya.Thanks.



Related Posts:

Share this article :
 
 

Copyright © 2012. Gudang Artikel - All Rights Reserved

Proudly powered by Blogger